Inovasi Pendidikan
MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Landasan Pendidikan
Dosen Pengampu: Arip Amin, M.Pd.
Disusun oleh:
Syipa Lisfianisa
NPM P220196113
PRODI
PENDIDIKAN MATEMATIKA
STKIP
YASIKA MAJALENGKA TAHUN 2019
BACA JUGA: Landasan IPTEK dan Inovasi Pendidikan
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah
ini sebagai tugas mata kuliah Landasan Pendidikan.
Kami telah menyusun makalah ini dengan
sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun tentunya sebagai manusia biasa
tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Saya berharap, semoga bisa menjadi
koreksi di masa mendatang agar lebih baik lagi dari sebelumnya.
Tak lupa ucapan terima kasih saya sampaikan kepada
teman-teman atas masukkannya, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada
saya. Sehingga saya dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya dan insya Allah sesuai yang diharapkan.
Pada dasarnya makalah yang saya sajikan ini khusus
mengupas tentang”Inovasi Pendidikan”. Untuk lebih jelas simak pembahasannya
dalam makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini bisa memberikan sumbang
pemikiran sekaligus pengetahuan bagi kita semuanya. Amiin.
Majalengka, 2019
Penulis,
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB
II PEMBAHASAN
A. Kerangka teori
- Hakikat Inovasi Pendidikan
- Pengertian Inovasi
- Penegertian Pendidikan
- Inovasi Pendidikan
3. Manfaat Inovasi
Pendidikan
4. Sasaran Program
inovasi pendidikan
BAB
III PENUTUP
a. Simpulan
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan sangatlah penting
bagi kehidupan kita, karena tanpa pendidikan, kehidupan manusia tidaklah mungkin akan bermakna. Pendidikan secara nasional diartikan sebagai usaha sadar dan terencana,
pendidikan tentu memiliki makna yang sangat sangatlah luas, didalamnya tidak hanya menyangkut soal
pengetahuan, akan tetapi terdapat nilai-nilai moral yang mampu membangun suatu peradaban, maka dari itu sudah
seharusnya kita semua mampu menjadi pendidik dan sekaligus menjadi orang yang terdidik.
Melihat perkembangan zaman yang
semakin maju, tak hanya dalam bidang ekonomi dan teknologi yang mengalami perubahan
perubahan tertentu akan tetapi dalam system pendidikanpun terus mengalami
perubahan dan pembaharuan system, dari era konvensional menuju ke era modern karena
menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang semakin melek akan teknologi. Peradaban dunia akan terangkat apabila system pendidikan yang terstruktur dan terukur akan memiliki nilai pembaharuan-pembaharuan, guna mewujudkan tujuan pendidikan.
Iklim kehidupan berbangsa dan
bernegara yang kurang kondusif, yang cenderung mengarah pada kebebasan yang
kurang terkendali sehingga muncul permasalahan permasalahan yang mengakibatkan
kurang tertibnya dalam system pendidikan, dan pengajaran yang tidak di
sesuaikan dengan era globalisasi.
Maka dari itu diperlukannya
perubahan atau inovasi dalam pendidikan. Hal ini
pendidikan sebenarnya berfungsi mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta
didik secara utuh dan terintegrasi tetapi untuk memudahkan pengkajian dan
pembahasan biasa diadakan pemilahan dalam aspek-aspek intelektual, sosial,
emosi dan fisik-motorik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang dapat diambil adalah:- Apakah yang dimaksud inovasi pendidikan?
- Bagaiman proses inovasi pendidikan?
- Apa Manfaat Inovasi Pendidikan?
- Apa Sasaran Program Inovasi Pendidikan?
C. Tujuan Penulisan
- Untuk mengetahui inovasi pendidikan.
- Agar mengetahui suatu proses inovasi pendidikan.
- Agar mengetahui manfaat inovasi pendidikan.
- Agar mengetahui sasaran inovasi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kerangka teori
1. Hakikat Inovasi
Pendidikan
a. Pengertian Inovasi
Istilah “inovasi” merupakan kata
yang menarik dalam manajemen pada tiga dasawarsa belakangan. Para pimpinan
bisnis dan politisi dalam memenangkan persaingan selalu menggunakan istilah
inovasi atau perubahan radikal sebagai jargon kompetisi dan perjuang
bisnis dalam kiprahnya.
Inovasi
menurut Hamijoyo, (1996:134) mengemukakan bahwa: “ Inovasi berasal dari kata
latin, innovation yang berarti pembaruan dan perubahan. Kata kerjanya inovo
yang artinya memperbaharui dan mengubah. Inovasi adalah suatu perubahan yang
baru yang menuju kearah perbaikan; yang lain atau berbeda dari yang ada
sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara
kebetulan).Kata "innovation" (bahasa Inggris) sering diterjemahkan
segala hal yang baru atau pembaharua”
Sedangkan
menurut Donald P. Ely (1982:135) mengemukakan bahwa:” Innovation ialah suatu
ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal
yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa
hasil invention maupun discovery”.
Sedangkan Menurut para ahli
sebagaimana diungkapkan dalam kamus dapat dialihbahasakan bahwa “innovation”
dipahami sebagai “penggantian cara-cara yang lama dengan cara baru”, sedangkan Innovator adalah pembawa cara-cara
baru” demikian pendapat Miraza Cs, (1972:183) yang dikemukakan oleh Asy’ari
(tt:70) dalam Muhammad Rusli Karim. Tegasnya suatu “pembaharuan, perubahan
baru”, berarti inovasi. Karena itu istilah “Innovator adalah dipahami sebagai
“penemu cara baru, atau “pembaharu”. Istilah inovasi, perubahan dan pembaharuan
seringkali dipakai secara silih berganti untuk menjelaskan tentang inovasi.
Berdasarkan studi Center for
Educational research and Innovation tahun 1973 sudah didefinisikan bahwa
menunjukkan sesuatu tindakan yang baru dalam organisasi dan kehidupan manusia.
Dalam hal ini inovasi sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sengaja untuk
meningkatkan praktik dalam mencapai tujuan dan selanjutnya dinyatakan suatu
pembaharuan adalah suatu inovasi dari suatu sistem dalam skala yang luas.
Sedangkan menurut Junius Mauegha, (1982:
89). Kemudian dijelaskan bahwa inovasi (Innovation) adalah upaya
memperkenalkan berbagai hal yang baru
dengan maksud memperbaiki apa-apa yang sudah terbiasa demi timbulnya praktik
yang baru baik dalam metode ataupun cara-cara bekerja untuk mencapai tujuan Wijaya,
( 1992:9).
Dalam
konteks ini maka dapat saja kajian tentang hakikat inovasi berhenti di sini dan
dapat diajukan definisi inovasi sebagai suatu “perubahan yang direncanakan”.
Namun, agar perubahan itu mempunyai tujuan, penting untuk mengaitkannya pada
sesuatu hal, dan haruslah sesuatu yang lebih baik daripada sebelumnya. Inovasi
adalah mengenai suatu “perubahan yang direncanakan”, yang bertujuan untuk
“memperbaiki”. Unsur lain yang tercakup dalam definisi ini adalah praktik.
Alasan untuk memberi penekanan pada tindakan praktik adalah bahwa hal ini
merupakan bagian yang sangat penting dari proses perubahan. Transisi dari ide
atau rencana menjadi realitas, dari solusi yang terpersepsi menjadi solusi yang
diimplementasikan sering kali merupakan bagian yang tersulit. Setiap orang
dapat memikirkan dan menggambarkan suatu perbaikan, tetapi mengubah ide menjadi
realitas itu lebih sulit dan memerlukan kemampuan lebih banyak.
B.
Penegertian
Pendidikan
Pendidikan
Menurut Sukmadinata dalam Prof. Dr. Syafaruddin, M.Pd., Asrul, M.Si., dan
Mesiono, M.Pd.(2012 : 1) mengatakan bahwa:” Pendidikan sebagai proses
transformasi budaya sejatinya menjadi wahana bagi perubahan dan dinamika
kebudayaan masyarakat dan bangsa.” Karena itu, pendidikan yang diberikan
melalui bimbingan, pengajaran dan latihan harus mampu memenuhi tuntutan
pengembangan potensi peserta didik secara maksimal, baik potensi intelektual,
spiritual, sosial, moral, maupun estetika sehingga terbentuk kedewasaan atau
kepribadian seutuhnya. Dengan melalui kegiatan tersebut yang merupakan
bentuk-bentuk utama dari proses pendidikan, maka kelangsungan hidup individu
dan masyarakat akan terjamin. Dalam hal ini pendidikan sebenarnya berfungsi
mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik secara utuh dan
terintegrasi tetapi untuk memudahkan pengkajian dan pembahasan biasa diadakan
pemilahan dalam aspek-aspek intelektual, sosial, emosi dan fisik-motorik.
C.
Inovasi
Pendidikan
Para
pakar pendidikan telah banyak mengajukan definisi inovasi pendidikan. Namun
disini dipaparkan beberapa pendapat tentang desfinisi inovasi pendidikan
sebagai upaya dalam memahami konsep dasar inovasi pendidikan yang dipraktikkan
dalam dunia pendidikan.
Inovasi
pendidikan menurut (Sa’ud: 2011:5) mengemukakan bahwa:” inovasi pendidikan
merupakan upaya dalam memperbaiki aspek-aspek pendidikan dalam praktiknya.
Untuk lebih jelasnya Inovasi pendidikan Inovasi pendidikan adalah suatu
perubahan yang baru, dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada sebelumnya),
serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan
tertentu dalam pendidikan.
Sedangkan
menurut Wijaya (1998: 28) mengemukakan bahwa:” Inovasi pendidikan di Indonesia
dapat dilihat dari empat aspek, yaitu tujuan pendidikan, struktur pendidikan
dan pengajaran, metode kurikulum dan pengajaran serta perubahan terhadap
aspek-aspek pendidikan dan proses
Dalam
konteks ini dapat dipahami bahwa inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang
baru dan kualitatif berbeda dari keadaan yang ada sebelumnya. Menjadikan system
yang terstruktur dan menerapkan strategi serta metode metode baru yang
mendukung proses pendidikan. Tegasnya inovasi pendidikan adalah inovasi
(pembaruan) dalam bidang pendidikan atau inovasi yang dilakukan untuk
memecahkan masalah-masalah pendidikan, inovasi pendidikan merupakan suatu ide,
barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal baru bagi seseorang atau
kelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi (yang baru) atau
discovery (mengubah yg lama) yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan
atau memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Dari
beberapa pendapat pakar di atas mengenai inovasi pendidikan, dapat ditarik
kesimpulan bahwa inovasi pendidikan adalah ide, barang, metode yang dirasakan
atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang
(masyarakat) yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan
atau memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Inovasi
pendidikan bagaimanapun harus didukung oleh kesadaran masyarakat untuk berubah.
Apabila suatu masyarakat belum menghendaki suatu sistem pendidikanyang
diinginkan maka tidak akan mungkin suatu perubahan atau inovasi pendidikan
terjadi. Dalam konteks keilmuan, inovasi pendidikan menjadi topik yang selalu
hangat dibicarakan dari masa ke masa. Isu ini selalu juga muncul tatkala orang
membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, karena berkenaan
dengan penentuan masa depan suatu bangsa, sehingga benar-benar sangat
futuristik (orientasi masa depan).
Dari pengertian
inovasi pendidikan, ada beberapa istilah kunci, yaitu:
- “Baru” dalam inovasi dapat diartikan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh penerima inovasi, meskipun mungkin bukan baru lagi bagi orang lain. Akan tetapi, yang lebih penting dari sifatnya yang baru ialah sifat kualitatif berbeda dari sebelumnya.
- “Kualitatif”, berarti inovasi itu memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali unsur-unsur di dalam pendidikan. Jadi, bukan semata-mata penjumlahan atau penambahan unsurunsur setiap komponen. Tindakan menambah anggaran belanja supaya lebih banyak mengadakan murid, guru, kelas, dan sebagainya, meskipun perlu dan penting bukan merupakan tindakan inovasi. Akan tetapi, tindakan mengatur kembali, jenis dan pengelompokan pelajaran, waktu, ruang kelas, cara-cara menyampaikan pelajaran sehingga dengan tenaga, alat, uang, dan waktu yang sama dapat menjangkau sasaran siswa yang lebih banyak dan dicapai kualitas yang lebih tinggi adalah tindakan inovasi.
- “Hal” yang dimaksud dalam definisi terdahulu adalah meliputui semua komponen dan aspek dalam subsistem pendidikan. Halhal yang diperbaharui pada hakikatnya adalah ide atau rangkaian ide. Sementara inovasi karena sifatnya tetap bercorak mental, sedangkan yang lain memperoleh bentuk nyata, baik buah pikiran, metode, teknik bekerja, mengatur mendidik, perbuatan, peraturan, norma, barang dan alat.
- “Kesengajaan” merupakan unsur perkembangan baru dalam pemikiran para pendidik dewasa ini. Pembatasan arti secara fungsional ini lebih banyak mengutarakan harapan kalangan pendidik agar kita kembali pada pembelajaran (learning), dan pengajaran (teaching) dan menghindarkan diri dari pembaharuan perkakas (gadgeteering).
- “Meningkatkan Kemampuan”, mengandung arti bahwa tujuan utama inovasi pendidikan adalah kemampuan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Pendeknya keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengans sebaikbaiknya.
- “Tujuan”, yang direncanakan harus dirinci dengan jelas tentang sasaran dan hasil-hasil yang ingin dicapai, yang sedapat mungkin dapat diukur untuk mengetahui perbedaan antara keadaan sesudah dan sebelum inovasi pendidikan dilaksanakan. Sedangkan tujuan dari inovasi itu sendiri adalah efisiensi dan efektivitas mengenai sasaran jumlah anak didik sebanyak-banyaknya dengan hasil pendidikan yang sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan anak didik, masyarakat dan pembangunan), dengan menggunakan sumberdaya tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya (Saud, 2011:6-8).
1. Proses inovasi pendidikan
Dalam mempelajari proses inovasi para ahli mencoba
mengidentifikasi kegiatan apa saja yang dilakukan individu selama proses itu
berlangsung serta perubahan apa yang terjadi dalam proses inovasi, maka
hasilnya diketemukan pentahapan proses inovasi seperti berikut:
Beberapa Model Proses Inovasi Yang
berorientasi pada Individual, antara lain:
Lavidge
& Steiner (1961):
- Menyadari
- Mengetahui
- Menyukai
- Memilih
- Mempercayai
- Membeli
Colley
(1961):
- Belum menyadari
- Menyadari
- Memahami
- Mempercayai
- Mengambil tindakan
Rogers
(1962):
- Menyadari
- Menaruh perhatian
- Menilai
- Mencoba
- Menerima (Adoption)
- Persepsi tentang masalah
- Menyadari
- Memahami
- Menyikapi
- Mengesahkan
- Mencoba
- Menerima
- Disonansi
Sedangkan menurut Zaltman, Duncan, dan Holbek (1973:55)
mengemukakan bahwa :” proses inovasi dalam organisasi menjadi dua tahap yaitu
tahap permulaan (initiation stage) dan tahap implementasi (implementation
stage). Tiap tahap dibagi lagi menjadi beberapa langkah (sub stage) sebagai berikut:
Tahap Permulaan (Intiation Stage)
Tahap Permulaan (Intiation Stage)
- Langkah pengetahuan dan kesadaran. Jika inovasi dipandang sebagai suatu ide, kegiatan, atau material yang diamati baru oleh unit adopsi (penerima inovasi), maka tahu adanya inovasi menjadi masalah yang pokok. Sebelum inovasi dapat diterima calon penerima harus sudah menyadari bahwa ada inovasi, dan dengan demikian ada kesempatan untuk menggunakan inovasi dalam organisasi. Sebagaimana telah kita bicarakan pada waktu membicarakan proses keputusan inovasi, maka timbul masalah mana yang dulu tahu dan sadar ada inovasi atau merasa butuh inovasi. Maka Rogers dan Shoemakers mengemukakan seperti mana dulu ayam atau telur, tergantung situasinya. Mungkin dapat tahu dan sadar inovasi baru merasa butuh atau sebaliknya. Jika kita lihat kaitannya dengan organisasi, maka adanya kesenjangan penampilan (performance gaps) mendorong untuk mencari cara-cara baru atau inovasi. Tetapi juga dapat terjadi sebaliknya karena sadar akan adanya inovasi, maka pimpinan organisasi merasa bahwa dalam organisasinya ada sesuatu yang ketinggalan. Kemudian merubah hasil yang diharapkan, maka terjadi sejenjangan penampilan.
- Langkah pembentukan sikap terhadap inovasi. Pada tahap ini anggota organisasi membentuk sikap terhadap inovasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap inovasi memegang peranan yang penting untuk menimbulkan motivasi untuk ingin berubah atau mau menerima inovasi. Paling tidak ada dua hal dari dimensi sikap yang dapat ditunjukkan anggota organisasi terhadap adanya inovasi yaitu: Pertama, sikap terbuka terhadap inovasi, yang ditandai dengan adanya; seperti kemauan anggota organisasi untuk memeprtimbangkan inovasi, mempertanyakan inovasi (skeptic), merasa bahwa inovasi akan dapat meningkatkan kemampuan organisasi dalam menjalankan fungsinya. Kedua, Memiliki persepsi tentang potensi inovasi yang ditandai dengan adanya pengamatan yang menunjukkan; bahwa ada kemampuan bagi organisasi untuk menggunakan inovasi., organisasi telah pernah mengalami keberhasilan pada masa lalu dengan menggunakan inovasi, adanya komitmen atau kemauan untuk bekerja dengan menggunakan inovasi serta siap untuk menghadapi kemungkinan timbulnya masalah dalam penerapan inovasi.
Dalam mempertimbangkan pengaruh
dari sikap anggota organisasi terhadap proses inovasi, maka perlu
dipertimbangkan juga perubahan tingkah laku yang diharapkan oleh organisasi
formal. Jika terjadi perbedaan antara sikap individu terhadap inovasi dengan
perubahan tingkah laku yang diharapkan oleh pimpinan organisasi, maka terjadi
disonansi inovasi. Ada dua macam disonansi yaitu penerimaan disonan dan penolak
disonan.
Mohr (dikutip oleh Zaltman, 1973),
mengemukakan bahwa:” berdasarkan hasil penelitiannya di bidang kesehatan,
menunjukkan bahwa kemauan untuk menerima inovasi akan mengarah pada penerapan
inovasi jika disertai adanya motivasi yang tinggi untuk mau berbuat serta
tersedia bahan atau sumber yang diperlukan”. Jika persediaan sumber bahan yang
diperlukan (resources) tinggi, maka dampak terhadap motivasi untuk menerapkan
inovasi dapat lipat 4 1/2 kali daripada jika persediaan sumber bahan rendah.
Jadi untuk melancarkan proses inovasi, perlu mempertimbangkan berbagai variabel
yang dapat meningkatkan motivasi serta tersedianya sumber bahan pelaksanaan
(resources).
2. Manfaat
Inovasi Pendidikan.
Seperti telah
dikemukakan bahwa munculnya suatu inovasi adalah sebagai alternatif pemecahan
masalah, maka langkah pertama pengembangan suatu inovasi didahului dengan
pengenalan terhadap masalah (Rogers, 1983; Lehman, 1981). Identifikasi terhadap
masalah inilah yang kemudian mendorong dilakukannya penelitian dan pengembangan
Sejauh ini dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan
yang sifatnya pembaruan atau inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam
bidang pendidikan tersebut, antara lain dalam hal manajemen pendidikan,
metodologi pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi
kurikulum.
Salah
satu aspek penting dalam konteks pendidikan di manapun adalah dengan
memperhatikan kurikulum yang diusung oleh pendidikan tersebut. Seringkali
kurikulum dijadikan objek penderita, dalam pengertian bahwa ketidak-berhasilan
suatu pendidikan diakibatkan terlalu seringnya kurikulum tersebut diubah. Padahal,
seharusnya dipahami bahwa kurikulum seyogyanya dinamis, harus berubah mengikuti
perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya.
Cuban
(1991:216) mengemukakan bahwa untuk memahami perubahan kurikulum maka perlu
dicermati tiga pokok pemikiran tentang perubahan tersebut yakni (a) rencana
perubahan itu selalu baik, (b) harus dipisahkan antara perubahan (change)
dengan kemantapan (stability), dan (c) apabila rencana perubahan sudah diadopsi
maka perlu untuk dilakukan perbaikan terhadap rencana tersebut (improvement).
Mencermati
masalah yang dijelaskan di atas, maka masalah yang dikaji dalam konteks ini:
(a) aspek-aspek inovatif yang terkandung dalam KTSP, (b) tantangan dalam KTSP
sebagai upaya mempercepat pembangunan bangsa, dan (c) kemungkinan permasalahan
yang akan muncul pada saat kurikulum tersebut diadopsi. Dengan pembahasan
tentang KTSP akan dihasilkan gambaran bagaimana suatu proses adopsi akan
berhadapan dengan sejumlah masalah yang harus diatasi.
Proses
dan tahapan perubahan itu ada kaitannya dengan masalah pengembangan
(development), penyebaran (diffusion), diseminasi (dissemination), perencanaan
(planning), adopsi adoption), penerapan (implementation) dan evaluasi
(evaluation) (Subandiyah, 1992:77). Pelaksanaaan inovasi pendidikan seperti
inovasi kurikulum tidak dapat dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi
itu sendiri. Inovasi pendidikan seperti yang dilakukan di Depdiknas yang
disponsori oleh lembaga-lembaga asing cenderung merupakan “Top-Down
Innovation”. Inovasi ini sengaja diciptakan oleh atasan sebagai usaha untuk
meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh
pendidikan berkualitas/unggul, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan
efisiensi dan sebaginya.
Inovasi seperti ini dilakukan dan
diterapkan kepada bawahan dengan cara
mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta
pembaharuan itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya
otoritas untuk menolak pelaksanaan hal-hal yang baru bagi kepentingan lembaga
dan masyarakatnya.
Kennedy
(1987: 163) juga membicarakan tentang strategi inovasi yang dikutip dari Chin
dan Benne (1970) menyarankan tiga jenis strategi inovasi, yaitu: Power Coercive
(strategi pemaksaan), Rational Empirical (empirik rasional), dan Normative -
Re-Educative (Pendidikan yang berulang secara normatif), (Wijaya, Dkk,
1992:18).
Strategi
inovasi yang pertama adalah strategi pemaksaaan berdasarkan kekuasaan merupakan
suatu pola inovasi yang sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah inovasi itu
sendiri. Strategi ini cenderung memaksakan kehendak, ide dan pikiran sepihak
tanpa menghiraukan kondisi dan keadaan serta situasi yang sebenarnya dimana
inovasi itu akan dilaksanakan. Kekuasaan memegang peranan yang sangat kuat
pengaruhnya dalam menerapkan ide-ide baru dan perubahan sesuai dengan kehendak
dan pikiran-pikiran dari pencipta inovasinya. Pihak pelaksana yang sebenarnya
merupakan obyek utama dari inovasi itu sendiri sama sekali tidak dilibatkan
baik dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya.
Para
inovator hanya menganggap pelaksana sebagai obyek semata dan bukan sebagai
subyek yang juga harus diperhatikan dan dilibatkan secara aktif dalam proses
perencanaan dan pengimplementasiannya.
Strategi
inovasi yang kedua adalah empirik Rasional. Asumsi dasar dalam strategi ini
adalah bahwa manusia mampu menggunakan pikiran logisnya atau akalnya sehingga
mereka akan bertindak secara rasional. Dalam kaitan dengan ini keberadaan inovator bertugas mendemonstrasikan
inovasinya dengan menggunakan metode yang terbaik valid untuk memberikan anfaat
bagi penggunanya. Di samping itu, startegi ini didasarkan atas pandangan yang
optimistik seperti apa yang dikatakan oleh Bennis, Benne, dan Chin yang dikutip
dari Wijaya dkk (1991).
Di
sekolah, para guru menciptakan strategi atau metode mengajar yang menurutnya
sesuai dengan akal yang sehat, berkaitan dengan situasi dan kondisi bukan
berdasarkan pengalaman guru tersebut. Di berbagai bidang, para pencipta inovasi
melakukan perubahan dan inovasi untuk bidang yang ditekuninya berdasarkan pemikiran,
ide dan pengalaman dalam bidangnya itu yang telah digeluti berbulanbulan bahkan
bertahun-tahun. Inovasi yang demikian memberi dampak yang lebih baik dari pada
model inovasi yang pertama.
Hal
ini disebabkan oleh kesesuaian dengan kondisi nyata di tempat pelaksanaan
inovasi tersebut. Jenis strategi inovasi yang ketiga adalah normatif
re-edukatif (pendidikan yang berulang) adalah suatu strategi inovasi yang
didasarkan pada pemikiran para ahli pendidikan seperti Sigmund Freud, John
Dewey, Kurt Lewis dan beberapa pakar lainnya (Wijaya (1991), yang menekankan
bagaimana klien memahami permasalahan pembaharuan seperti perubahan sikap,
skill dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia.
Dalam
pendidikan, sebuah strategi bila menekankan pada pemahaman pelaksana dan
penerima inovasi, maka pelaksanaan inovasi dapat dilakukan berulang kali.
Misalnya dalam pelaksanaan perbaikan sistem belajar mengajar di sekolah, para
guru sebagai pelaksana inovasi berulang kali melaksanakan perubahan-perubahan
itu sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan.
Kecenderungan
pelaksanaan model yang demikian agaknya lebih menekankan pada proses mendidik
dibandingkan engan hasil dari perubahan itu sendiri. Pendidikan yang
dilaksanakan lebih mendapat porsi yang dominan sesuai dengan tujuan menurut
pikiran dan rasionalitas yang dilakukan berkali-kali agar semua tujuan yang
sesuai dengan pikiran dan kehendak pencipta dan pelaksananya dapat tercapai.
Secara
keseluruhan ada beberapa komponen yang harus diperhatikan dalam komponen sistem
sosial untuk melakukan inovasi pendidikan, yaitu:
- Pembinaan personalia.. Inovasi ditentukan personil pendidikan, karena itu perlu peningkatan mutu guru, sistem kenaikan pangkat, aturan tata tertib siswa dan sebagainya.
- Banyaknya personil dan wilayah kerja. Inovasi pendidikan harus memperhatikan keseimbangan personil pendidik, tenaga administrasi dengan siswa yang ditangi untuk dididik dengan baik;
- Fasilitas Fisik. Inovasi pendidikan harus memperhatikan kesesuaian fasilitas fisik dengan jumlah siswa dan perkembangan teknologi;
- Penggunaan waktu. Inovasi pendidikan perlu memperhatikan ketepatan perencanaan penggunaan waktu dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan.
- Perumusan Tujuan. Inovasi pendidikan harus memperhatikan semua hirarki tujuan pendidikan dengan perubahan zaman yang terjadi.
- Prosedur. Inovasi pendidikan perlu memperhatikan penggunaan kurikulum baru, cara membuat persiapan mengajar, pengajaran individu dan kelompok dan sebagainya.
- Peran yang diperlukan. Inovasi pendidikan perlu memperhatikan kejelasan peran dari setiap orang dalam melaksanakan pendidikan yang diharapkan.
- Wawasan dan perasaan. Inovasi pendidikan yang relevan harus memperhatikan kesamaan wawasan dan perasaan dalam melakukan inovasi pendidikan yang diharapkan efektif.
- Bentuk hubungan antar bagian (mekanisme kerja). Inovasi pendidikan yang relevan harus memperhatikan mekanisme kerja yang baik jangan sampai program inovasi menjadi terhambat hanya karena tidak memahami mekanisme kerja.
- Hubungan dengan sistem yang lain. Inovasi yang relevan adalah harus memperhatikan hubungan antara satu sistem dengan sistem lain; atau hubungan antar sub sistem dalam satu sistem. Karena masing-masing sistem memiliki fungsi, dan berhubungan dengan sistem lain untuk keberhasilan dalam mencapai tujuan.
- Strategi. Sebagai instrumen atau alat (biasanya meliputi rangkaian aktivitas yang bersifat spesifik) yang dapat mengantarkan inovasi mencapai tujuannya. Karena inovasi menyangkut unsurunsur atau elemen yang kompleks dan variatif, maka strategi implementasinya pun berbeda-beda sesuai dengan komplektisitas dan variasi dalam paket inovasi tersebut. karenanya, harus diakui bahwa pola strategi inovasi pendidikan memang sulit untuk diklasifikasikan (Miles: 1993, 18-19)
Pada akhirnya, tujuan yang akan
dicapai dari suatu strategi inovasi adalah untuk meletakkan inovasi pendidikan
dalam kerangka sebuah sistem target. Perlu dicermati keberadaan sistem
persekolahan dan kedekatannya dengan lingkungan masyarakat, kampus atau
universitas dan lain-lain, sehingga pada gilirannya inovasi akan menjadi bagian
yang inheren dalam sebuah sistem pendidikan.
Strategi bisa dimulai dari sistem target itu
sendiri atau sistem-sistem lain dalam lingkungan sistem target, seperti
Departemen Pendidikan Nasional, Sekolah/ Madrasah, mass media, berbagai yayasan
sosial dan pendidikan dan badan-badan pemerintah. Lebih lanjut, strategi
inovasi juga bisa menggunakan berbagai struktur yang telah ada atau melalui
penciptaan berbagai struktur baru yang diperhitungkan lebih efektif dan
menguntungkan. Baik struktur yang telah ada maupun struktur baru harus
didefenisikan sesuai dengan kondisi dan waktu dimana inovasi itu akan
dilakukan. Pada dasarnya , keberhasilan sebuah paket inovasi pendidikan tidak
hanya terletak pada desain atau perencanaan, strategi, dan agen/pelopor
inovasi.
3.
Sasaran
Program inovasi pendidikan
Menurut
Cece Wijaya ( 1998:71) mengemukakan bahwa:” Inovasi pendidikan di Indonesia
dapat dilihat dari empat aspek, yaitu aspek pertama adalah aspek tujuan
pendidikan, struktur pendidikan dan pengajaran, metode kurikulum dan pengajaran
serta perubahan terhadap aspek-aspek pendidikan dan proses”.
Inovasi
dalam aspek tujuan pendidikan dimulai pada tahun 1970 dan kini dikenal sebagai
Tujuan Intruksional Khusus (TIK). Inovasi ini berlangsung lambat karena umumnya
guru belum dapat membiasakan diri menjabarkan TIK. Aspek kedua adalah inovasi
pada aspek struktur pendidikan melibatkan cara penyusunan sekolah dan kelompok
serta ruangan kelas agar menjadi lebih bergengsi
Sasaran
yang dimaksud di sini adalah komponen-komponen apa saja dalam bidang pendidikan
yang dapat menciptakan inovasi. Pendidkan adalah suatu sistem maka inovasi
pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan,
baik sistem dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang
lain, maupun sistem dalam arti yang luas, misalnya sistem pendidikan nasional.
Inovasi dalam aspek tujuan pendidikan dimulai pada tahun 1970 dan kini dikenal
sebagai Tujuan Intruksional Khusus (TIK).
Bahkan saat ini dalam Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) sejak tahun
2006, dengan berbagai standar nasional pendidikan yang ditetapkan melalui
Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 merupakan inovasi pendidikan yang
terus bergerak untuk memajukan pendidikan.
Semula inovasi tentang TIK berlangsung lambat
karena umumnya guru belum dapat membiasakan diri menjabarkan TIK. Inovasi pada
aspek struktur pendidikan melibatkan cara penyusunan sekolah dan kelompok serta
ruangan kelas agar menjadi lebih bergengsi dan memudahkan pembelajaran siswa.
Sesungguhnya inovasi pendidikan meliputi pembaruan dalam materi dan isi
kurikulum dam pengajaran. Inovasi materi atau isi kurikulum, yaitu meliputi
inovasi pendidikan yang disajikan. Contohnya, bagaimana meningkatkan mutu
proses belajar dan mengajar dan bagaimana menerapkan muatan lokal dari
kurikulum nasional. Demikian pula dalam inovasi pendidikan adalah perubahan
terhadap aspek-aspek pendidikan dan proses yang meliputi penggunaan multimode
dan multimedia dalam kegiatan belajar.
Penggunaan
kombinasi metode atau media dilakukan oleh guru pada saat proses berlangsung,
dan diharapkan dapat memberikan hasil yang efektif. Perubahan dalam proses ini
juga meliputi pendekatan inkuriri artinya, penyelidikan yang dilakukan oleh
siswa apabila siswa masih memiliki pertanyaan dalam belajarnya.
Pendekatan
CBSA yaitu siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan belajar, namun masih
dalam bimbingan guru. Dibandingkan dengan cara belajar sebelumnya, di mana guru
lebih dominan dalam proses pembelajaran dan sumber informasi hanya datang dari
guru (verbalisme). Selain yang diuraikan di atas, upaya pembaruan dalam bidang
pendidikan, yaitu dengan adanya Teknologi Pendidikan. Teknologi pendidikan
merupakan pengembangan, penerapan, dan evaluasi atan sistem, teknik serta alat
bantu untuk meningkatkan proses belajar manusia (Ellington,1984:20).
Perkembangan
suatu inovasi didorong oleh motivasi untuk melakukan inovasi pendidikan itu
sendiri. Motivasi itu bersumber pada dua hal, yaitu kemauan sekolah atau
lembaga utuk mengadakan respons terhadap tantangan perubahan masyarakt dan
adanya usaha untuk mneggunakan sekolah dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
Perkembangan inovasi dalam pendidikan di Indonesia di antaranya adalah berikut
ini:
a. Pemerataan
kesempatan belajar, untuk menanggulangi jumlah usia sekolah yang cukup banyak
di Indonesia. Pemerintah men ciptakan sistem pendidikan yang dapat menampung
sebanyak mungkin anak usia sekolah, salah satunya adalah didirikannya SD
Pamong, SMP Terbuka, Universitas Terbuka.
b. Kualitas
pendidikan untuk menaggulangi kurangnya jumlah guru, dengan diiringi merosotnya
mutu pendidikan pemerintah dalam hal ini meningkatkan mutu pendidikan, misalnya
penataran guru melalui radio, modul.
c. Penggunaan
multi media dalam pembelajaran. Pendidikan harus diusahakan agar memperoleh
hasil yang baik dengan dana dan waktu yang sedikit. Ini berari harus dicari
sistem pendidikan dan pengajaran yang efektif dan efisien. Di antaranya dengan
memanfaatkan lembar kerja siswa dan media KIT IPA.
Berikut ini contoh-contoh inovasi
pendidikan dalam setiap komponen pendidikan atau komponen sistem sosial dengan
pola yang dikemukakan oleh B. Milles, seperti yang dikutip oleh Ibrahim (1988),
yaitu:
a. Pembinaan
Personalia Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial menempatkan
personal (orang) sebagai bagian/komponen dari sistem. Adapun inovasi yang
sesuai dengan pembinaan personal, yaitu peningkatan mutu guru, sistem
kenaikanpangkat, peningkatan disiplin siswa melalui tata tertib dan sebagainya.
b. Banyaknya
Personal dan Wilayah Kerja Inovasi pendidikan yang relevan dengan aspek ini,
misalnya rasio guru dan siswa dalam satu sekolah.
c. Fasilitas
Fisik Sistem pendidikan untuk mendayagunakan sarana dan prasarana dalam
mencapai tujuan. Inovasi yang sesuai dengan komponen ini, misalnya pengaturan
tempat duduk siswa,pengaturan papan tulis, pengaturan peralatan laboratorium
bahasa, penggunaan kamera video.
d. Penggunaan
Waktu Dalam sistem pendidikan tentu memiliki perencanaan pengunaan waktu.
Inovasi yang sesuai dengan aspek ini, misalnya pengaturan waktu belajar (pagi
atau siang), pengaturan jadwal pelajaran.
e. Perumusan
Tujuan Sistem pendidikan tentu memiliki rumusan tujuan yang jelas. Inovas iyang
sesuai dengan aspek ini, misalnya perubahan rumusan tujuan pendidikan nasional,
perubahan rumusan tujuan kurikuler, perubahan rumusan tujuan institusional,
perubahan rumusan tujuan instruksional.
f. Prosedur
Dalam sistem pendidikan tentu saja memiliki prosedur untuk mencapai tujuan.
Adapun inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini adalah penggunaan
kurikulum baru, cara membuat rencana pengajaran, pengajaran secara kelompok dan
sebagainya.
g. Peran
yang Diperlukan Dalam sistem pendidikan perlu adanya kejelasan peran yang
diperlukan guna menunjang pencapaian tujuan. Inovasi pendidikan yang relevan
dengan komponen ini, misalnya peran guru sebagai pemakai media, peran guru
sebagai pengelola kegiatan kelompok, guru sebagai team teaching.
h. Wawasan
dan Perasaan Dalam interaksi sosial termasuk sistem pendidikan biasanya
berkembang suatu wawasan dan perasaan tertentu yang menunjang kelancaran
pencapaian tujuan. Inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini misalnya
wawasan pendidikan seumur hidup, pendekatan keterampilan proses, perasaan cinta akan pekerjaan
(profesionalisme), kesedian berkorban, dan kesabaran.
i. Bentuk
Hubungan Antarbagian (Mekanisme Kerja) Dalam sistem pendidikan perlu adanya
kejelasan hubungan antarbagian dalam pelaksanaan kegiatan. Inovasi yang relevan
dengan komponen ini, antara lain perubahan pembagian tugas antarguru, perubahan
hubungan kerja antarkelas.
j. Hubungan
dengan Sistem yang lain Pendidikan sebagai sebuah sistem dalam pelaksanaan
kegiatannya akan berhubungan atau bekerja sama dengan sistem yang lain. Inovasi
yang relevan dengan komponen ini, misalnya dalam pelaksanaan Usaha Kesehatan
Sekolah bekerja sama dengan Puskesmas, dalam pelaksanaan Bakti Sosial bekerja
sama dengan Pemerintah Daerah setempat, dan sebagainya.
k. Strategi
Strategi ialah tahap-tahap kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan
inovasi pendidikan.
Pola
strategi yang biasanya digunakan, yaitu:
- Desain Suatu inovasi ditemukan berdasarkan hasil observasi atau hasil penelitian. Dari hasil penelitian itu maka dibuat desain suatu inovasi dengan perencanaan penyebarannya.
- Kesadaran dan perhatian Berhasil atau tidaknya suatu inovasi sengat ditentukan oleh adanya kesadaran danperhatian penerima/sasaran inovasi baik individu maupun kelompok akan perlunya inovasi tersebut. Berdasarkan kesadran itu maka mereka akan mencari informasi tentang inovasi.
- Evaluasi Para penerima/sasaran inovasi mengadakan penilaian tentang kemungkinan akan dapat terlaksananya inovasi tersebut, tentang kemampuan untuk mencapai tujuan, tentangpembiayaan dan sebagainya.
- Percobaan Para penerima/sasaran inovasi mencoba menerapkan inovasi untuk membuktikan apakah memang benar inovasi dapat diterapkan, seperti yang diharapkan. Jika ternyata berhasil maka inovasi akan diterima.
Beberapa
contoh perkembangan inovasi di bidang pendidikan adalah sebgai berikut:
Perkembangan inovasi pendidikan pada tingkat pendidikan dasar khususnya sekolah
dasar sudah banyak dilakukan oleh para guru. Misalnya, pelaksanaan kegiatan pembelajaran
melalui pembelajaran terpadu; penulisan tujuan pembelajaran dengan perumusan
yang benar yaitu mengandung unsur Audience, Behavior, Condition, dan Degree,
serta pendekatan pembelajaran melalui cara belajar siswa aktif dan lain-lain.
Universitas Terbuka menyelenggarakan Program Penyetaraan D.II Guru SD yang
bertujuan untuk meningkatkan kualifikasi guru kelas dan guru penjaskes. untuk
mencapai tujuan tersebut, dilakukan melalui program pendidikan jarak jauh
dengan bahan belajar utama yaitu bahan cetak (modul) ditunjang dengan program
kaset audio, radio, dan televisi.
Mahasiswa
dapat belajar tanpa meninggalkan tugas, dan mahasiswa dapat berinteraksi dengan
pengajar melelui media interaktif. Hingga saat ini para guru SD membuat
perencanaan pembelajaran (desain pembelajaran) masih menggunakan model Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
Sedangkan
pada saat ini dengan masuknya, teknologi pembelajaran Quantum Teaching, dapat
digunakan perencanaan pengajaran yang dikenal dengan istilah TANDUR.
Di
bawah ini adalah tinjauan sekitar dan maknanya.
T : Tumbuhkan minat dengan
memuaskan “Apakah Manfaatnya Bagi-Ku “(AMBAK), dan manfaatkan kehidupan
pelajar.
A : Alami. Ciptakan atau datangkan pengalamanumum yang dapat dimengerti semua pelajar.
N : Namai. Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, sebuah masukan.
D : Demonstrasikan. Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka tahu.
U : Ulangi. Tunjukkan pelajar cara-cara lain untuk mendemonstrasikan bahwa mereka paham.
R : Rayakan. Akui setiap Usaha. Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan keterampilan dan ilm pengetahuan.
A : Alami. Ciptakan atau datangkan pengalamanumum yang dapat dimengerti semua pelajar.
N : Namai. Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, sebuah masukan.
D : Demonstrasikan. Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka tahu.
U : Ulangi. Tunjukkan pelajar cara-cara lain untuk mendemonstrasikan bahwa mereka paham.
R : Rayakan. Akui setiap Usaha. Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan keterampilan dan ilm pengetahuan.
Di dalam metode belajar terdapat
inovasi yang dikenal dengan Accelerated Learning, yaitu belajar dengan
menggunakan relaksasi dan perasaan atau emosi yang positif (mengaktifkan
kekuatan pikiran bawah sadar untuk mencapai tujuan). Metode ini akan
menyempurnakan cara belajar siswa aktif yang telah dikenal selama ini.
Inovasi dalam bidang pendidikan
yang juga berhubungan dengan masalah reinkarnasi adalah penggunaan alat hitung
sempoa bagi siswa usia 7 – 12 tahun di bidang Aritmatika dan telah mengenal
bilangan 1-100. Alat ini digunakan untuk membantu keterampilan kognitif siswa
dalam menghitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Selain
itu, dengan adanya jasa telekomunikasi (Warnet), guru-guru dapat mengakses
materi-materi pelajaran aktual melalui internet. Dalam perkembangan terkini
banyak contoh lain tentang sasaran inovasi dalam bidang pendidikan juga
pembelajaran on-line, atau pembelajaran berbasis jaringan.
Dari uraian dan contoh-contoh di
atas, para guru dan perancang pendidikan dapat menciptakan inovasi-inovasi baru
dalam bidang pendidikan sehingga mutu pendidikan baik secara lokal maupun
secara nasional bertambah. Jangan lupakan pula faktorfaktor mempengaruhi
pembaruan pendidikan sebagai penunjang susksesnya inovasi yang diterapkan
ataupun ciptakan.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Inovasi
sebagai suatu “perubahan yang direncanakan”. Namun, agar perubahan itu
mempunyai tujuan, penting untuk mengaitkannya pada sesuatu hal, dan haruslah
sesuatu yang lebih baik daripada sebelumnya. Inovasi adalah mengenai suatu
“perubahan yang direncanakan”, yang bertujuan untuk “memperbaiki”. Unsur lain yang
tercakup dalam definisi ini adalah praktik. Alasan untuk memberi penekanan pada
tindakan praktik adalah bahwa hal ini merupakan bagian yang sangat penting dari
proses perubahan. Transisi dari ide atau rencana menjadi realitas, dari solusi
yang terpersepsi menjadi solusi yang diimplementasikan sering kali merupakan
bagian yang tersulit. Setiap orang dapat memikirkan dan menggambarkan suatu
perbaikan, tetapi mengubah ide menjadi realitas itu lebih sulit dan memerlukan
kemampuan lebih banyak.
Salah
satu aspek penting dalam konteks pendidikan di manapun adalah dengan
memperhatikan kurikulum yang diusung oleh pendidikan tersebut. Seringkali
kurikulum dijadikan objek penderita, dalam pengertian bahwa ketidak-berhasilan
suatu pendidikan diakibatkan terlalu seringnya kurikulum tersebut diubah.
Padahal, seharusnya dipahami bahwa kurikulum seyogyanya dinamis, harus berubah
mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya.
Dengan
demikian, inovasi sangatlah penting dalam dunia pendidikan karena berpengaruh
besar terhadap maju mundurnya suatu mutu pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir. 2000. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ali, Mohammad, Dkk. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bandung: Pedagogiana Press.
Andriani, Durri, Dkk, 2003. Cakrawala Pendidikan:
E-Learning dalam Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2019. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah,Yogyakarta: Diva Press.
Aunillah, Nuria Isna.
Dosen Kopertis Wilayah IV, dpk. FKIP Universitas
Galuh Ciamis Jurnal Wahana
Pendidikan Volume 4,1, Januari 2017.
Gerald Zaltman, Philip Kolter, Ira Kaufman, (1977). Creating Social Change. Holt Rinehart and
Winston, Inc New York, Chicago, San Francisco, Atlanta, Dallas, Toronto.
INOVASI PENDIDIKAN (Suatu Analisis Terhadap
Kebijakan Baru Pendidikan) Dr. Syafaruddin, M.Pd. Asrul, M.Si. Mesiono, M.Pd.
Perdana Mulya Sarana Anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jl. Sosro No.
16-A Medan Faks. 061-7347756 E-mail: perdanapublishing@gmail.com
2012
Roger M &
Shoemaker F. Floyd. (1971). Communication of Innovation. New York: The Free
Press A Division of Macmillan Publishing Co. Inc.
Komentar
Posting Komentar