Inovasi Pendidikan

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Landasan Pendidikan Dosen Pengampu: Arip Amin, M.Pd.

Disusun oleh:

Syipa Lisfianisa
NPM P220196113

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA
STKIP YASIKA MAJALENGKA TAHUN 2019

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini sebagai tugas mata kuliah Landasan Pendidikan.
Kami telah menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun tentunya sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Saya berharap, semoga bisa menjadi koreksi di masa mendatang agar lebih baik lagi dari sebelumnya.
Tak lupa ucapan terima kasih saya sampaikan kepada teman-teman atas masukkannya, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada saya. Sehingga saya dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dan insya Allah sesuai yang diharapkan. 
Pada dasarnya makalah yang saya sajikan ini khusus mengupas tentang”Inovasi Pendidikan”. Untuk lebih jelas simak pembahasannya dalam makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini bisa memberikan sumbang pemikiran sekaligus pengetahuan bagi kita semuanya. Amiin.
Majalengka, 2019
Penulis,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i
DAFTAR ISI. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan. 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Kerangka teori
  1. Hakikat Inovasi Pendidikan
  • Pengertian Inovasi
  • Penegertian Pendidikan
  • Inovasi Pendidikan
      2. Proses inovasi pendidikan
      3. Manfaat Inovasi Pendidikan
      4. Sasaran Program inovasi pendidikan


BAB III PENUTUP
a. Simpulan
DAFTAR PUSTAKA    23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan sangatlah penting bagi kehidupan kita, karena tanpa pendidikan, kehidupan manusia tidaklah mungkin akan bermakna. Pendidikan secara nasional diartikan sebagai usaha sadar dan terencana, pendidikan tentu memiliki makna yang sangat sangatlah luas, didalamnya tidak hanya menyangkut soal pengetahuan, akan tetapi terdapat nilai-nilai moral yang mampu membangun suatu peradaban, maka dari itu sudah seharusnya kita semua mampu menjadi pendidik dan sekaligus menjadi orang yang terdidik.
Melihat perkembangan zaman yang semakin maju, tak hanya dalam bidang ekonomi dan teknologi yang mengalami perubahan perubahan tertentu akan tetapi dalam system pendidikanpun terus mengalami perubahan dan pembaharuan system, dari era konvensional menuju ke era modern karena menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang semakin melek akan teknologi. Peradaban dunia akan terangkat apabila system pendidikan yang terstruktur dan terukur akan memiliki nilai pembaharuan-pembaharuan, guna mewujudkan tujuan pendidikan.
Iklim kehidupan berbangsa dan bernegara yang kurang kondusif, yang cenderung mengarah pada kebebasan yang kurang terkendali sehingga muncul permasalahan permasalahan yang mengakibatkan kurang tertibnya dalam system pendidikan, dan pengajaran yang tidak di sesuaikan dengan era globalisasi.
Maka dari itu diperlukannya perubahan atau inovasi dalam pendidikan. Hal ini pendidikan sebenarnya berfungsi mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik secara utuh dan terintegrasi tetapi untuk memudahkan pengkajian dan pembahasan biasa diadakan pemilahan dalam aspek-aspek intelektual, sosial, emosi dan fisik-motorik.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang dapat diambil adalah:
  1. Apakah yang dimaksud inovasi pendidikan?
  2. Bagaiman proses inovasi pendidikan?
  3. Apa Manfaat Inovasi Pendidikan?
  4. Apa Sasaran Program Inovasi Pendidikan?

 C. Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui inovasi pendidikan.
  2. Agar mengetahui suatu proses inovasi pendidikan.
  3. Agar mengetahui manfaat inovasi pendidikan.
  4. Agar mengetahui sasaran inovasi pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Kerangka teori
1.      Hakikat Inovasi Pendidikan
             a.      Pengertian Inovasi
      Istilah “inovasi” merupakan kata yang menarik dalam manajemen pada tiga dasawarsa belakangan. Para pimpinan bisnis dan politisi dalam memenangkan persaingan selalu menggunakan istilah inovasi atau perubahan radikal sebagai jargon kompetisi dan perjuang bisnis  dalam kiprahnya.
Inovasi menurut Hamijoyo, (1996:134) mengemukakan bahwa: “ Inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaruan dan perubahan. Kata kerjanya inovo yang artinya memperbaharui dan mengubah. Inovasi adalah suatu perubahan yang baru yang menuju kearah perbaikan; yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan).Kata "innovation" (bahasa Inggris) sering diterjemahkan segala hal yang baru atau pembaharua”
Sedangkan menurut Donald P. Ely (1982:135) mengemukakan bahwa:” Innovation ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invention maupun discovery”.
Sedangkan Menurut para ahli sebagaimana diungkapkan dalam kamus dapat dialihbahasakan bahwa “innovation” dipahami sebagai “penggantian cara-cara yang lama dengan cara baru”,  sedangkan Innovator adalah pembawa cara-cara baru” demikian pendapat Miraza Cs, (1972:183) yang dikemukakan oleh Asy’ari (tt:70) dalam Muhammad Rusli Karim. Tegasnya suatu “pembaharuan, perubahan baru”, berarti inovasi. Karena itu istilah “Innovator adalah dipahami sebagai “penemu cara baru, atau “pembaharu”. Istilah inovasi, perubahan dan pembaharuan seringkali dipakai secara silih berganti untuk menjelaskan tentang inovasi.
Berdasarkan studi Center for Educational research and Innovation tahun 1973 sudah didefinisikan bahwa menunjukkan sesuatu tindakan yang baru dalam organisasi dan kehidupan manusia. Dalam hal ini inovasi sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sengaja untuk meningkatkan praktik dalam mencapai tujuan dan selanjutnya dinyatakan suatu pembaharuan adalah suatu inovasi dari suatu sistem  dalam skala yang luas.
Sedangkan menurut Junius Mauegha, (1982: 89). Kemudian dijelaskan bahwa inovasi (Innovation) adalah upaya memperkenalkan  berbagai hal yang baru dengan maksud memperbaiki apa-apa yang sudah terbiasa demi timbulnya praktik yang baru baik dalam metode ataupun cara-cara bekerja untuk mencapai tujuan Wijaya, ( 1992:9).
Dalam konteks ini maka dapat saja kajian tentang hakikat inovasi berhenti di sini dan dapat diajukan definisi inovasi sebagai suatu “perubahan yang direncanakan”. Namun, agar perubahan itu mempunyai tujuan, penting untuk mengaitkannya pada sesuatu hal, dan haruslah sesuatu yang lebih baik daripada sebelumnya. Inovasi adalah mengenai suatu “perubahan yang direncanakan”, yang bertujuan untuk “memperbaiki”. Unsur lain yang tercakup dalam definisi ini adalah praktik. Alasan untuk memberi penekanan pada tindakan praktik adalah bahwa hal ini merupakan bagian yang sangat penting dari proses perubahan. Transisi dari ide atau rencana menjadi realitas, dari solusi yang terpersepsi menjadi solusi yang diimplementasikan sering kali merupakan bagian yang tersulit. Setiap orang dapat memikirkan dan menggambarkan suatu perbaikan, tetapi mengubah ide menjadi realitas itu lebih sulit dan memerlukan kemampuan lebih banyak.

B.      Penegertian Pendidikan
Pendidikan Menurut Sukmadinata dalam Prof. Dr. Syafaruddin, M.Pd., Asrul, M.Si., dan Mesiono, M.Pd.(2012 : 1) mengatakan bahwa:” Pendidikan sebagai proses transformasi budaya sejatinya menjadi wahana bagi perubahan dan dinamika kebudayaan masyarakat dan bangsa.” Karena itu, pendidikan yang diberikan melalui bimbingan, pengajaran dan latihan harus mampu memenuhi tuntutan pengembangan potensi peserta didik secara maksimal, baik potensi intelektual, spiritual, sosial, moral, maupun estetika sehingga terbentuk kedewasaan atau kepribadian seutuhnya. Dengan melalui kegiatan tersebut yang merupakan bentuk-bentuk utama dari proses pendidikan, maka kelangsungan hidup individu dan masyarakat akan terjamin. Dalam hal ini pendidikan sebenarnya berfungsi mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik secara utuh dan terintegrasi tetapi untuk memudahkan pengkajian dan pembahasan biasa diadakan pemilahan dalam aspek-aspek intelektual, sosial, emosi dan fisik-motorik.

C.       Inovasi Pendidikan
Para pakar pendidikan telah banyak mengajukan definisi inovasi pendidikan. Namun disini dipaparkan beberapa pendapat tentang desfinisi inovasi pendidikan sebagai upaya dalam memahami konsep dasar inovasi pendidikan yang dipraktikkan dalam dunia pendidikan.
Inovasi pendidikan menurut (Sa’ud: 2011:5) mengemukakan bahwa:” inovasi pendidikan merupakan upaya dalam memperbaiki aspek-aspek pendidikan dalam praktiknya. Untuk lebih jelasnya Inovasi pendidikan Inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru, dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada sebelumnya), serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan.
Sedangkan menurut Wijaya (1998: 28) mengemukakan bahwa:” Inovasi pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari empat aspek, yaitu tujuan pendidikan, struktur pendidikan dan pengajaran, metode kurikulum dan pengajaran serta perubahan terhadap aspek-aspek pendidikan dan proses
Dalam konteks ini dapat dipahami bahwa inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari keadaan yang ada sebelumnya. Menjadikan system yang terstruktur dan menerapkan strategi serta metode metode baru yang mendukung proses pendidikan. Tegasnya inovasi pendidikan adalah inovasi (pembaruan) dalam bidang pendidikan atau inovasi yang dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan, inovasi pendidikan merupakan suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi (yang baru) atau discovery (mengubah yg lama) yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Dari beberapa pendapat pakar di atas mengenai inovasi pendidikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa inovasi pendidikan adalah ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Inovasi pendidikan bagaimanapun harus didukung oleh kesadaran masyarakat untuk berubah. Apabila suatu masyarakat belum menghendaki suatu sistem pendidikanyang diinginkan maka tidak akan mungkin suatu perubahan atau inovasi pendidikan terjadi. Dalam konteks keilmuan, inovasi pendidikan menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan dari masa ke masa. Isu ini selalu juga muncul tatkala orang membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, karena berkenaan dengan penentuan masa depan suatu bangsa, sehingga benar-benar sangat futuristik (orientasi masa depan).
Dari pengertian inovasi pendidikan, ada beberapa istilah kunci, yaitu:
  1.  “Baru” dalam inovasi dapat diartikan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh penerima inovasi, meskipun mungkin bukan baru lagi bagi orang lain. Akan tetapi, yang lebih penting dari sifatnya yang baru ialah sifat kualitatif berbeda dari sebelumnya.
  2. “Kualitatif”, berarti inovasi itu memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali unsur-unsur di dalam pendidikan. Jadi, bukan semata-mata penjumlahan atau penambahan unsurunsur setiap komponen. Tindakan menambah anggaran belanja supaya lebih banyak mengadakan murid, guru, kelas, dan sebagainya, meskipun perlu dan penting bukan merupakan tindakan inovasi. Akan tetapi, tindakan mengatur kembali, jenis dan pengelompokan pelajaran, waktu, ruang kelas, cara-cara menyampaikan pelajaran sehingga dengan tenaga, alat, uang, dan waktu yang sama dapat menjangkau sasaran siswa yang lebih banyak dan dicapai kualitas yang lebih tinggi adalah tindakan inovasi.
  3. “Hal” yang dimaksud dalam definisi terdahulu adalah meliputui semua komponen dan aspek dalam subsistem pendidikan. Halhal yang diperbaharui pada hakikatnya adalah ide atau rangkaian ide. Sementara inovasi karena sifatnya tetap bercorak mental, sedangkan yang lain memperoleh bentuk nyata, baik buah pikiran, metode, teknik bekerja, mengatur mendidik, perbuatan, peraturan, norma, barang dan alat.
  4. “Kesengajaan” merupakan unsur perkembangan baru dalam pemikiran para pendidik dewasa ini. Pembatasan arti secara fungsional ini lebih banyak mengutarakan harapan kalangan pendidik agar kita kembali pada pembelajaran (learning), dan pengajaran (teaching) dan menghindarkan diri dari pembaharuan perkakas (gadgeteering).
  5. “Meningkatkan Kemampuan”, mengandung arti bahwa tujuan utama inovasi pendidikan adalah kemampuan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Pendeknya keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengans sebaikbaiknya.
  6. “Tujuan”, yang direncanakan harus dirinci dengan jelas tentang sasaran dan hasil-hasil yang ingin dicapai, yang  sedapat mungkin dapat diukur untuk mengetahui perbedaan antara keadaan sesudah dan sebelum inovasi pendidikan dilaksanakan. Sedangkan tujuan dari inovasi itu sendiri adalah efisiensi dan efektivitas mengenai sasaran jumlah anak didik sebanyak-banyaknya dengan hasil pendidikan yang sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan anak didik, masyarakat dan pembangunan), dengan menggunakan sumberdaya tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya (Saud, 2011:6-8).

1.      Proses inovasi pendidikan
Dalam mempelajari proses inovasi para ahli mencoba mengidentifikasi kegiatan apa saja yang dilakukan individu selama proses itu berlangsung serta perubahan apa yang terjadi dalam proses inovasi, maka hasilnya diketemukan pentahapan proses inovasi seperti berikut:
Beberapa Model Proses Inovasi Yang berorientasi pada Individual, antara lain:
Lavidge & Steiner (1961):
  • Menyadari
  • Mengetahui
  • Menyukai
  • Memilih
  • Mempercayai
  • Membeli

            Colley (1961):
  • Belum menyadari
  • Menyadari
  • Memahami
  • Mempercayai
  • Mengambil tindakan
           Rogers (1962):

  • Menyadari
  • Menaruh perhatian
  • Menilai
  • Mencoba
  • Menerima (Adoption)
Robertson (1971):

  • Persepsi tentang masalah
  • Menyadari
  • Memahami
  • Menyikapi
  • Mengesahkan
  • Mencoba
  • Menerima 
  • Disonansi
Sedangkan  menurut Zaltman, Duncan, dan Holbek (1973:55) mengemukakan bahwa :” proses inovasi dalam organisasi menjadi dua tahap yaitu tahap permulaan (initiation stage) dan tahap implementasi (implementation stage). Tiap tahap dibagi lagi menjadi beberapa langkah (sub stage) sebagai berikut:
Tahap Permulaan (Intiation Stage)

  1. Langkah pengetahuan dan kesadaran. Jika inovasi dipandang sebagai suatu ide, kegiatan, atau material yang diamati baru oleh unit adopsi (penerima inovasi), maka tahu adanya inovasi menjadi masalah yang pokok. Sebelum inovasi dapat diterima calon penerima harus sudah menyadari bahwa ada inovasi, dan dengan demikian ada kesempatan untuk menggunakan inovasi dalam organisasi. Sebagaimana telah kita bicarakan pada waktu membicarakan proses keputusan inovasi, maka timbul masalah mana yang dulu tahu dan sadar ada inovasi atau merasa butuh inovasi. Maka Rogers dan Shoemakers mengemukakan seperti mana dulu ayam atau telur, tergantung situasinya. Mungkin dapat tahu dan sadar inovasi baru merasa butuh atau sebaliknya. Jika kita lihat kaitannya dengan organisasi, maka adanya kesenjangan penampilan (performance gaps) mendorong untuk mencari cara-cara baru atau inovasi. Tetapi juga dapat terjadi sebaliknya karena sadar akan adanya inovasi, maka pimpinan organisasi merasa bahwa dalam organisasinya ada sesuatu yang ketinggalan. Kemudian merubah hasil yang diharapkan, maka terjadi sejenjangan penampilan.
  2. Langkah pembentukan sikap terhadap inovasi. Pada tahap ini anggota organisasi membentuk sikap terhadap inovasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap inovasi memegang peranan yang penting untuk menimbulkan motivasi untuk ingin berubah atau mau menerima inovasi. Paling tidak ada dua hal dari dimensi sikap yang dapat ditunjukkan anggota organisasi terhadap adanya inovasi yaitu: Pertama, sikap terbuka terhadap inovasi, yang ditandai dengan adanya; seperti kemauan anggota organisasi untuk memeprtimbangkan inovasi, mempertanyakan inovasi (skeptic), merasa bahwa inovasi akan dapat meningkatkan kemampuan organisasi dalam menjalankan fungsinya. Kedua, Memiliki persepsi tentang potensi inovasi yang ditandai dengan adanya pengamatan yang menunjukkan; bahwa ada kemampuan bagi organisasi untuk menggunakan inovasi., organisasi telah pernah mengalami keberhasilan pada masa lalu dengan   menggunakan inovasi, adanya komitmen atau kemauan untuk bekerja dengan menggunakan inovasi serta siap untuk menghadapi kemungkinan timbulnya masalah dalam penerapan inovasi.
Dalam mempertimbangkan pengaruh dari sikap anggota organisasi terhadap proses inovasi, maka perlu dipertimbangkan juga perubahan tingkah laku yang diharapkan oleh organisasi formal. Jika terjadi perbedaan antara sikap individu terhadap inovasi dengan perubahan tingkah laku yang diharapkan oleh pimpinan organisasi, maka terjadi disonansi inovasi. Ada dua macam disonansi yaitu penerimaan disonan dan penolak disonan. 
Mohr (dikutip oleh Zaltman, 1973), mengemukakan bahwa:” berdasarkan hasil penelitiannya di bidang kesehatan, menunjukkan bahwa kemauan untuk menerima inovasi akan mengarah pada penerapan inovasi jika disertai adanya motivasi yang tinggi untuk mau berbuat serta tersedia bahan atau sumber yang diperlukan”. Jika persediaan sumber bahan yang diperlukan (resources) tinggi, maka dampak terhadap motivasi untuk menerapkan inovasi dapat lipat 4 1/2 kali daripada jika persediaan sumber bahan rendah. Jadi untuk melancarkan proses inovasi, perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang dapat meningkatkan motivasi serta tersedianya sumber bahan pelaksanaan (resources).
2.     Manfaat Inovasi Pendidikan.
Seperti telah dikemukakan bahwa munculnya suatu inovasi adalah sebagai alternatif pemecahan masalah, maka langkah pertama pengembangan suatu inovasi didahului dengan pengenalan terhadap masalah (Rogers, 1983; Lehman, 1981). Identifikasi terhadap masalah inilah yang kemudian mendorong dilakukannya penelitian dan pengembangan Sejauh ini dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam bidang pendidikan tersebut, antara lain dalam hal manajemen pendidikan, metodologi pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi kurikulum.
Salah satu aspek penting dalam konteks pendidikan di manapun adalah dengan memperhatikan kurikulum yang diusung oleh pendidikan tersebut. Seringkali kurikulum dijadikan objek penderita, dalam pengertian bahwa ketidak-berhasilan suatu pendidikan diakibatkan terlalu seringnya kurikulum tersebut diubah. Padahal, seharusnya dipahami bahwa kurikulum seyogyanya dinamis, harus berubah mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya.
Cuban (1991:216) mengemukakan bahwa untuk memahami perubahan kurikulum maka perlu dicermati tiga pokok pemikiran tentang perubahan tersebut yakni (a) rencana perubahan itu selalu baik, (b) harus dipisahkan antara perubahan (change) dengan kemantapan (stability), dan (c) apabila rencana perubahan sudah diadopsi maka perlu untuk dilakukan perbaikan terhadap rencana tersebut (improvement).
Mencermati masalah yang dijelaskan di atas, maka masalah yang dikaji dalam konteks ini: (a) aspek-aspek inovatif yang terkandung dalam KTSP, (b) tantangan dalam KTSP sebagai upaya mempercepat pembangunan bangsa, dan (c) kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada saat kurikulum tersebut diadopsi. Dengan pembahasan tentang KTSP akan dihasilkan gambaran bagaimana suatu proses adopsi akan berhadapan dengan sejumlah masalah yang harus diatasi.
Proses dan tahapan perubahan itu ada kaitannya dengan masalah pengembangan (development), penyebaran (diffusion), diseminasi (dissemination), perencanaan (planning), adopsi adoption), penerapan (implementation) dan evaluasi (evaluation) (Subandiyah, 1992:77). Pelaksanaaan inovasi pendidikan seperti inovasi kurikulum tidak dapat dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi itu sendiri. Inovasi pendidikan seperti yang dilakukan di Depdiknas yang disponsori oleh lembaga-lembaga asing cenderung merupakan “Top-Down Innovation”. Inovasi ini sengaja diciptakan oleh atasan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan berkualitas/unggul, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebaginya.
 Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan  kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta pembaharuan itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaan hal-hal yang baru bagi kepentingan lembaga dan masyarakatnya.
Kennedy (1987: 163) juga membicarakan tentang strategi inovasi yang dikutip dari Chin dan Benne (1970) menyarankan tiga jenis strategi inovasi, yaitu: Power Coercive (strategi pemaksaan), Rational Empirical (empirik rasional), dan Normative - Re-Educative (Pendidikan yang berulang secara normatif), (Wijaya, Dkk, 1992:18).
Strategi inovasi yang pertama adalah strategi pemaksaaan berdasarkan kekuasaan merupakan suatu pola inovasi yang sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah inovasi itu sendiri. Strategi ini cenderung memaksakan kehendak, ide dan pikiran sepihak tanpa menghiraukan kondisi dan keadaan serta situasi yang sebenarnya dimana inovasi itu akan dilaksanakan. Kekuasaan memegang peranan yang sangat kuat pengaruhnya dalam menerapkan ide-ide baru dan perubahan sesuai dengan kehendak dan pikiran-pikiran dari pencipta inovasinya. Pihak pelaksana yang sebenarnya merupakan obyek utama dari inovasi itu sendiri sama sekali tidak dilibatkan baik dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya.
Para inovator hanya menganggap pelaksana sebagai obyek semata dan bukan sebagai subyek yang juga harus diperhatikan dan dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan dan pengimplementasiannya.
Strategi inovasi yang kedua adalah empirik Rasional. Asumsi dasar dalam strategi ini adalah bahwa manusia mampu menggunakan pikiran logisnya atau akalnya sehingga mereka akan bertindak secara rasional. Dalam kaitan dengan ini keberadaan  inovator bertugas mendemonstrasikan inovasinya dengan menggunakan metode yang terbaik valid untuk memberikan anfaat bagi penggunanya. Di samping itu, startegi ini didasarkan atas pandangan yang optimistik seperti apa yang dikatakan oleh Bennis, Benne, dan Chin yang dikutip dari Wijaya dkk (1991).
Di sekolah, para guru menciptakan strategi atau metode mengajar yang menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berkaitan dengan situasi dan kondisi bukan berdasarkan pengalaman guru tersebut. Di berbagai bidang, para pencipta inovasi melakukan perubahan dan inovasi untuk bidang yang ditekuninya berdasarkan pemikiran, ide dan pengalaman dalam bidangnya itu yang telah digeluti berbulanbulan bahkan bertahun-tahun. Inovasi yang demikian memberi dampak yang lebih baik dari pada model inovasi yang pertama.
Hal ini disebabkan oleh kesesuaian dengan kondisi nyata di tempat pelaksanaan inovasi tersebut. Jenis strategi inovasi yang ketiga adalah normatif re-edukatif (pendidikan yang berulang) adalah suatu strategi inovasi yang didasarkan pada pemikiran para ahli pendidikan seperti Sigmund Freud, John Dewey, Kurt Lewis dan beberapa pakar lainnya (Wijaya (1991), yang menekankan bagaimana klien memahami permasalahan pembaharuan seperti perubahan sikap, skill dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia.
Dalam pendidikan, sebuah strategi bila menekankan pada pemahaman pelaksana dan penerima inovasi, maka pelaksanaan inovasi dapat dilakukan berulang kali. Misalnya dalam pelaksanaan perbaikan sistem belajar mengajar di sekolah, para guru sebagai pelaksana inovasi berulang kali melaksanakan perubahan-perubahan itu sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan.
Kecenderungan pelaksanaan model yang demikian agaknya lebih menekankan pada proses mendidik dibandingkan engan hasil dari perubahan itu sendiri. Pendidikan yang dilaksanakan lebih mendapat porsi yang dominan sesuai dengan tujuan menurut pikiran dan rasionalitas yang dilakukan berkali-kali agar semua tujuan yang sesuai dengan pikiran dan kehendak pencipta dan pelaksananya dapat tercapai.
Secara keseluruhan ada beberapa komponen yang harus diperhatikan dalam komponen sistem sosial untuk melakukan inovasi pendidikan, yaitu:

  1. Pembinaan personalia.. Inovasi ditentukan personil pendidikan, karena itu perlu peningkatan mutu guru, sistem kenaikan pangkat, aturan tata tertib siswa dan sebagainya.
  2. Banyaknya personil dan wilayah kerja. Inovasi pendidikan harus memperhatikan keseimbangan personil pendidik, tenaga administrasi dengan siswa yang ditangi untuk dididik dengan baik;
  3. Fasilitas Fisik. Inovasi pendidikan harus memperhatikan kesesuaian fasilitas fisik dengan jumlah siswa dan perkembangan teknologi;
  4. Penggunaan waktu. Inovasi pendidikan perlu memperhatikan ketepatan perencanaan penggunaan waktu dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan.
  5. Perumusan Tujuan. Inovasi pendidikan harus memperhatikan semua hirarki tujuan pendidikan dengan perubahan zaman yang terjadi.
  6. Prosedur. Inovasi pendidikan perlu memperhatikan penggunaan kurikulum baru, cara membuat persiapan mengajar, pengajaran individu dan kelompok dan sebagainya.
  7. Peran yang diperlukan. Inovasi pendidikan perlu memperhatikan kejelasan peran dari setiap orang dalam melaksanakan pendidikan yang diharapkan.
  8. Wawasan dan perasaan. Inovasi pendidikan yang relevan harus memperhatikan kesamaan wawasan dan perasaan dalam melakukan inovasi pendidikan yang diharapkan efektif.
  9. Bentuk hubungan antar bagian (mekanisme kerja). Inovasi pendidikan yang relevan harus memperhatikan mekanisme kerja yang baik jangan sampai program inovasi menjadi terhambat hanya karena tidak memahami mekanisme kerja.
  10. Hubungan dengan sistem yang lain. Inovasi yang relevan adalah harus memperhatikan hubungan antara satu sistem dengan sistem lain; atau hubungan antar sub sistem dalam satu sistem. Karena masing-masing sistem memiliki fungsi, dan berhubungan dengan sistem lain untuk keberhasilan dalam mencapai tujuan.
  11. Strategi. Sebagai instrumen atau alat (biasanya meliputi rangkaian aktivitas yang bersifat spesifik) yang dapat mengantarkan inovasi mencapai tujuannya. Karena inovasi menyangkut unsurunsur atau elemen yang kompleks dan variatif, maka strategi implementasinya pun berbeda-beda sesuai dengan komplektisitas dan variasi dalam paket inovasi tersebut. karenanya, harus diakui bahwa pola strategi inovasi pendidikan memang sulit untuk diklasifikasikan (Miles: 1993, 18-19)
Pada akhirnya, tujuan yang akan dicapai dari suatu strategi inovasi adalah untuk meletakkan inovasi pendidikan dalam kerangka sebuah sistem target. Perlu dicermati keberadaan sistem persekolahan dan kedekatannya dengan lingkungan masyarakat, kampus atau universitas dan lain-lain, sehingga pada gilirannya inovasi akan menjadi bagian yang inheren dalam sebuah sistem pendidikan.
 Strategi bisa dimulai dari sistem target itu sendiri atau sistem-sistem lain dalam lingkungan sistem target, seperti Departemen Pendidikan Nasional, Sekolah/ Madrasah, mass media, berbagai yayasan sosial dan pendidikan dan badan-badan pemerintah. Lebih lanjut, strategi inovasi juga bisa menggunakan berbagai struktur yang telah ada atau melalui penciptaan berbagai struktur baru yang diperhitungkan lebih efektif dan menguntungkan. Baik struktur yang telah ada maupun struktur baru harus didefenisikan sesuai dengan kondisi dan waktu dimana inovasi itu akan dilakukan. Pada dasarnya , keberhasilan sebuah paket inovasi pendidikan tidak hanya terletak pada desain atau perencanaan, strategi, dan agen/pelopor inovasi.
3.      Sasaran Program inovasi pendidikan
Menurut Cece Wijaya ( 1998:71) mengemukakan bahwa:” Inovasi pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari empat aspek, yaitu aspek pertama adalah aspek tujuan pendidikan, struktur pendidikan dan pengajaran, metode kurikulum dan pengajaran serta perubahan terhadap aspek-aspek pendidikan dan proses”.
Inovasi dalam aspek tujuan pendidikan dimulai pada tahun 1970 dan kini dikenal sebagai Tujuan Intruksional Khusus (TIK). Inovasi ini berlangsung lambat karena umumnya guru belum dapat membiasakan diri menjabarkan TIK. Aspek kedua adalah inovasi pada aspek struktur pendidikan melibatkan cara penyusunan sekolah dan kelompok serta ruangan kelas agar menjadi lebih bergengsi
Sasaran yang dimaksud di sini adalah komponen-komponen apa saja dalam bidang pendidikan yang dapat menciptakan inovasi. Pendidkan adalah suatu sistem maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik sistem dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun sistem dalam arti yang luas, misalnya sistem pendidikan nasional. Inovasi dalam aspek tujuan pendidikan dimulai pada tahun 1970 dan kini dikenal sebagai Tujuan Intruksional Khusus (TIK).  Bahkan saat ini dalam Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) sejak tahun 2006, dengan berbagai standar nasional pendidikan yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 merupakan inovasi pendidikan yang terus bergerak untuk memajukan pendidikan.
 Semula inovasi tentang TIK berlangsung lambat karena umumnya guru belum dapat membiasakan diri menjabarkan TIK. Inovasi pada aspek struktur pendidikan melibatkan cara penyusunan sekolah dan kelompok serta ruangan kelas agar menjadi lebih bergengsi dan memudahkan pembelajaran siswa. Sesungguhnya inovasi pendidikan meliputi pembaruan dalam materi dan isi kurikulum dam pengajaran. Inovasi materi atau isi kurikulum, yaitu meliputi inovasi pendidikan yang disajikan. Contohnya, bagaimana meningkatkan mutu proses belajar dan mengajar dan bagaimana menerapkan muatan lokal dari kurikulum nasional. Demikian pula dalam inovasi pendidikan adalah perubahan terhadap aspek-aspek pendidikan dan proses yang meliputi penggunaan multimode dan multimedia dalam kegiatan belajar.
Penggunaan kombinasi metode atau media dilakukan oleh guru pada saat proses berlangsung, dan diharapkan dapat memberikan hasil yang efektif. Perubahan dalam proses ini juga meliputi pendekatan inkuriri artinya, penyelidikan yang dilakukan oleh siswa apabila siswa masih memiliki pertanyaan dalam belajarnya.
Pendekatan CBSA yaitu siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan belajar, namun masih dalam bimbingan guru. Dibandingkan dengan cara belajar sebelumnya, di mana guru lebih dominan dalam proses pembelajaran dan sumber informasi hanya datang dari guru (verbalisme). Selain yang diuraikan di atas, upaya pembaruan dalam bidang pendidikan, yaitu dengan adanya Teknologi Pendidikan. Teknologi pendidikan merupakan pengembangan, penerapan, dan evaluasi atan sistem, teknik serta alat bantu untuk meningkatkan proses belajar manusia (Ellington,1984:20).
Perkembangan suatu inovasi didorong oleh motivasi untuk melakukan inovasi pendidikan itu sendiri. Motivasi itu bersumber pada dua hal, yaitu kemauan sekolah atau lembaga utuk mengadakan respons terhadap tantangan perubahan masyarakt dan adanya usaha untuk mneggunakan sekolah dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Perkembangan inovasi dalam pendidikan di Indonesia di antaranya adalah berikut ini:
a. Pemerataan kesempatan belajar, untuk menanggulangi jumlah usia sekolah yang cukup banyak di Indonesia. Pemerintah men ciptakan sistem pendidikan yang dapat menampung sebanyak mungkin anak usia sekolah, salah satunya adalah didirikannya SD Pamong, SMP Terbuka, Universitas Terbuka.
b. Kualitas pendidikan untuk menaggulangi kurangnya jumlah guru, dengan diiringi merosotnya mutu pendidikan pemerintah dalam hal ini meningkatkan mutu pendidikan, misalnya penataran guru melalui radio, modul.
c. Penggunaan multi media dalam pembelajaran. Pendidikan harus diusahakan agar memperoleh hasil yang baik dengan dana dan waktu yang sedikit. Ini berari harus dicari sistem pendidikan dan pengajaran yang efektif dan efisien. Di antaranya dengan memanfaatkan lembar kerja siswa dan media KIT IPA.
Berikut ini contoh-contoh inovasi pendidikan dalam setiap komponen pendidikan atau komponen sistem sosial dengan pola yang dikemukakan oleh B. Milles, seperti yang dikutip oleh Ibrahim (1988), yaitu:
a. Pembinaan Personalia Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial menempatkan personal (orang) sebagai bagian/komponen dari sistem. Adapun inovasi yang sesuai dengan pembinaan personal, yaitu peningkatan mutu guru, sistem kenaikanpangkat, peningkatan disiplin siswa melalui tata tertib dan sebagainya.
b. Banyaknya Personal dan Wilayah Kerja Inovasi pendidikan yang relevan dengan aspek ini, misalnya rasio guru dan siswa dalam satu sekolah.
c. Fasilitas Fisik Sistem pendidikan untuk mendayagunakan sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan. Inovasi yang sesuai dengan komponen ini, misalnya pengaturan tempat duduk siswa,pengaturan papan tulis, pengaturan peralatan laboratorium bahasa, penggunaan kamera video.
d. Penggunaan Waktu Dalam sistem pendidikan tentu memiliki perencanaan pengunaan waktu. Inovasi yang sesuai dengan aspek ini, misalnya pengaturan waktu belajar (pagi atau siang), pengaturan jadwal pelajaran.
e. Perumusan Tujuan Sistem pendidikan tentu memiliki rumusan tujuan yang jelas. Inovas iyang sesuai dengan aspek ini, misalnya perubahan rumusan tujuan pendidikan nasional, perubahan rumusan tujuan kurikuler, perubahan rumusan tujuan institusional, perubahan rumusan tujuan instruksional.
f. Prosedur Dalam sistem pendidikan tentu saja memiliki prosedur untuk mencapai tujuan. Adapun inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini adalah penggunaan kurikulum baru, cara membuat rencana pengajaran, pengajaran secara kelompok dan sebagainya.
g. Peran yang Diperlukan Dalam sistem pendidikan perlu adanya kejelasan peran yang diperlukan guna menunjang pencapaian tujuan. Inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini, misalnya peran guru sebagai pemakai media, peran guru sebagai pengelola kegiatan kelompok, guru sebagai team teaching.
h. Wawasan dan Perasaan Dalam interaksi sosial termasuk sistem pendidikan biasanya berkembang suatu wawasan dan perasaan tertentu yang menunjang kelancaran pencapaian tujuan. Inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini misalnya wawasan pendidikan seumur hidup, pendekatan keterampilan proses,  perasaan cinta akan pekerjaan (profesionalisme), kesedian berkorban, dan kesabaran.
i. Bentuk Hubungan Antarbagian (Mekanisme Kerja) Dalam sistem pendidikan perlu adanya kejelasan hubungan antarbagian dalam pelaksanaan kegiatan. Inovasi yang relevan dengan komponen ini, antara lain perubahan pembagian tugas antarguru, perubahan hubungan kerja antarkelas.
j. Hubungan dengan Sistem yang lain Pendidikan sebagai sebuah sistem dalam pelaksanaan kegiatannya akan berhubungan atau bekerja sama dengan sistem yang lain. Inovasi yang relevan dengan komponen ini, misalnya dalam pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah bekerja sama dengan Puskesmas, dalam pelaksanaan Bakti Sosial bekerja sama dengan Pemerintah Daerah setempat, dan sebagainya.
k. Strategi Strategi ialah tahap-tahap kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan inovasi pendidikan.
Pola strategi yang biasanya digunakan, yaitu:

  1. Desain Suatu inovasi ditemukan berdasarkan hasil observasi atau hasil penelitian. Dari hasil penelitian itu maka dibuat desain suatu inovasi dengan perencanaan penyebarannya.
  2. Kesadaran dan perhatian Berhasil atau tidaknya suatu inovasi sengat ditentukan oleh adanya kesadaran danperhatian penerima/sasaran inovasi baik individu maupun kelompok akan perlunya inovasi tersebut. Berdasarkan kesadran itu maka mereka akan mencari informasi tentang inovasi.
  3. Evaluasi Para penerima/sasaran inovasi mengadakan penilaian tentang kemungkinan akan dapat terlaksananya inovasi tersebut, tentang kemampuan untuk mencapai tujuan, tentangpembiayaan dan sebagainya.
  4. Percobaan Para penerima/sasaran inovasi mencoba menerapkan inovasi untuk membuktikan apakah memang benar inovasi dapat diterapkan, seperti yang diharapkan. Jika ternyata berhasil maka inovasi akan diterima.
Beberapa contoh perkembangan inovasi di bidang pendidikan adalah sebgai berikut: Perkembangan inovasi pendidikan pada tingkat pendidikan dasar khususnya sekolah dasar sudah banyak dilakukan oleh para guru. Misalnya, pelaksanaan kegiatan pembelajaran melalui pembelajaran terpadu; penulisan tujuan pembelajaran dengan perumusan yang benar yaitu mengandung unsur Audience, Behavior, Condition, dan Degree, serta pendekatan pembelajaran melalui cara belajar siswa aktif dan lain-lain. Universitas Terbuka menyelenggarakan Program Penyetaraan D.II Guru SD yang bertujuan untuk meningkatkan kualifikasi guru kelas dan guru penjaskes. untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan melalui program pendidikan jarak jauh dengan bahan belajar utama yaitu bahan cetak (modul) ditunjang dengan program kaset audio, radio, dan televisi.
Mahasiswa dapat belajar tanpa meninggalkan tugas, dan mahasiswa dapat berinteraksi dengan pengajar melelui media interaktif. Hingga saat ini para guru SD membuat perencanaan pembelajaran (desain pembelajaran) masih menggunakan model Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
Sedangkan pada saat ini dengan masuknya, teknologi pembelajaran Quantum Teaching, dapat digunakan perencanaan pengajaran yang dikenal dengan istilah TANDUR.
Di bawah ini adalah tinjauan sekitar dan maknanya.
T : Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya Bagi-Ku “(AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar.
A : Alami. Ciptakan atau datangkan pengalamanumum yang dapat dimengerti semua pelajar.
N : Namai. Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, sebuah masukan.
D : Demonstrasikan. Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka tahu.
U : Ulangi. Tunjukkan pelajar cara-cara lain untuk mendemonstrasikan bahwa mereka paham.
R : Rayakan. Akui setiap Usaha. Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan keterampilan dan ilm pengetahuan.
Di dalam metode belajar terdapat inovasi yang dikenal dengan Accelerated Learning, yaitu belajar dengan menggunakan relaksasi dan perasaan atau emosi yang positif (mengaktifkan kekuatan pikiran bawah sadar untuk mencapai tujuan). Metode ini akan menyempurnakan cara belajar siswa aktif yang telah dikenal selama ini.
Inovasi dalam bidang pendidikan yang juga berhubungan dengan masalah reinkarnasi adalah penggunaan alat hitung sempoa bagi siswa usia 7 – 12 tahun di bidang Aritmatika dan telah mengenal bilangan 1-100. Alat ini digunakan untuk membantu keterampilan kognitif siswa dalam menghitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Selain itu, dengan adanya jasa telekomunikasi (Warnet), guru-guru dapat mengakses materi-materi pelajaran aktual melalui internet. Dalam perkembangan terkini banyak contoh lain tentang sasaran inovasi dalam bidang pendidikan juga pembelajaran on-line, atau pembelajaran berbasis jaringan.
Dari uraian dan contoh-contoh di atas, para guru dan perancang pendidikan dapat menciptakan inovasi-inovasi baru dalam bidang pendidikan sehingga mutu pendidikan baik secara lokal maupun secara nasional bertambah. Jangan lupakan pula faktorfaktor mempengaruhi pembaruan pendidikan sebagai penunjang susksesnya inovasi yang diterapkan ataupun ciptakan.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Inovasi sebagai suatu “perubahan yang direncanakan”. Namun, agar perubahan itu mempunyai tujuan, penting untuk mengaitkannya pada sesuatu hal, dan haruslah sesuatu yang lebih baik daripada sebelumnya. Inovasi adalah mengenai suatu “perubahan yang direncanakan”, yang bertujuan untuk “memperbaiki”. Unsur lain yang tercakup dalam definisi ini adalah praktik. Alasan untuk memberi penekanan pada tindakan praktik adalah bahwa hal ini merupakan bagian yang sangat penting dari proses perubahan. Transisi dari ide atau rencana menjadi realitas, dari solusi yang terpersepsi menjadi solusi yang diimplementasikan sering kali merupakan bagian yang tersulit. Setiap orang dapat memikirkan dan menggambarkan suatu perbaikan, tetapi mengubah ide menjadi realitas itu lebih sulit dan memerlukan kemampuan lebih banyak.
Salah satu aspek penting dalam konteks pendidikan di manapun adalah dengan memperhatikan kurikulum yang diusung oleh pendidikan tersebut. Seringkali kurikulum dijadikan objek penderita, dalam pengertian bahwa ketidak-berhasilan suatu pendidikan diakibatkan terlalu seringnya kurikulum tersebut diubah. Padahal, seharusnya dipahami bahwa kurikulum seyogyanya dinamis, harus berubah mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya.
Dengan demikian, inovasi sangatlah penting dalam dunia pendidikan karena berpengaruh besar terhadap maju mundurnya suatu mutu pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir. 2000. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ali, Mohammad, Dkk. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bandung: Pedagogiana Press.
Andriani, Durri, Dkk, 2003. Cakrawala Pendidikan: E-Learning dalam Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2019. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah,Yogyakarta: Diva Press.
Aunillah, Nuria Isna.
Dosen Kopertis Wilayah IV, dpk. FKIP Universitas Galuh Ciamis  Jurnal Wahana Pendidikan    Volume 4,1, Januari 2017.
Gerald Zaltman, Philip Kolter, Ira Kaufman, (1977). Creating Social Change. Holt Rinehart and Winston, Inc New York, Chicago, San Francisco, Atlanta, Dallas, Toronto.
INOVASI PENDIDIKAN (Suatu Analisis Terhadap Kebijakan Baru Pendidikan) Dr. Syafaruddin, M.Pd. Asrul, M.Si. Mesiono, M.Pd. Perdana Mulya Sarana Anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jl. Sosro No. 16-A Medan Faks. 061-7347756 E-mail: perdanapublishing@gmail.com 2012
Roger M & Shoemaker F. Floyd. (1971). Communication of Innovation. New York: The Free Press A Division of Macmillan Publishing Co. Inc. 

Komentar